Kamis, 10 November 2016

semakin manis , semakin tajam

kau mengenalku
kau didekatku
kau disisku
tapi kau membenciku

kau mencaciku sesuka hatimu
kamu mendekam seolah olah ingin menerkamku
kau jatuhkan aku disisi lainnnya

kau remehkan aku dengan bibir manismu
kau memang cantik, tapi tak secantik bibirmu dan hatimu

aku juga memang tak secantik dirimu
tak seindah itu untuk dipandang
namun ketika kau berbicara,
pisau itu bekerja.
menunggu di sudut ruang berdebu.

Hei kamu,
Tidakkah kau lihat aku?
Apakah aku tidak semenarik dulu?
Dulu kau selalu memintaku sebagai teman hidupku
Dulu kau mencari aku saat waktu luangmu.
Dulu aku adalah kebutuhanmu
Tak bisakkah kita seperti dulu?

Seberapa menariknya dia hingga kamu tak bisa melepaskannya.
Seberapa memikatnya dia hingga menjadi yang pertama kau cari ketia kau bangun dari tidurmu.
Seberapa mencandunya dia hingga kamu rela mengalahkan waktu tidurmu untuk menemuinnya.

Hei kamu!
Aku disini!
Aku menantimu
Aku menunggumu
Aku mengharapkanmu
Di sudut ruang berdebu


disudut ruang bedebu. 
tempatku menantimu, dari seseorang jauh disini
untuk kau yang jauh disana.  

Selasa, 19 Mei 2015

Kamu bukan milikku lagi

Usai sudah semuanya.

Semua hal yang telah kita lalui bersama.

Sekitar 82209600 detik kita bersama.



Setelah tidak bersama lagi, aku lihat kamu memang lebih bahagia tanpa diriku.

Mungkin ini cara Allah memberi tahu bahwa diriku bukan yang terbaik untuk mu. Atau mungkin kamu bukan yang terbaik untukku.



Aku sedih. Mengapa aku pernah mengenalmu. Aku benci akan semua hal yang kamu lakukan untuk diriku. Aku kesal hanya bisa mengenang semua itu.



Andai waktu bisa di putar kembali.

Mungkin aku tidak ingin mengenal dirimu.

Karna aku tidak bisa bersamamu lebih lama.

Dan kamu bukan milikku lagi.

Rabu, 25 Februari 2015

Lelah

Lelah datang konsentrasi hilang.
Ingin berdiam, butuh kesunyian, tidak perlu orang lain, perlu diri sendiri untuk meraih ketenangan.
Ya Allah.. Salahku apa hari ini😭
Semua membuat emosiku naik.
Butuhh dirinya untuk bersandar😄
Tidak perlu orang banyak😭 cukup dirinya untuk diriku bersandar😄

Melelahkan, menaikan emosi, ingin marah, ingin teriak, tapi itu temanku.
Teman yang mampu menggapai puncak emosiku tertinggi.
Sudah menahan dari pagi ini. Tetap saja tidak bisa.
Andai dia bisa mengerti.
Awalnya sudah memang tidak suka dengannya karena dia senang sekali menjatuhkan orang lain. Beri kesabaran lebih kepadaku ya Allah 😄

Jumat, 30 Januari 2015

Pada Paragraf yang Begitu Singkat.

Pada paragraf yang begitu singkat. Kau sempat menulis bekas luka. Disana kau dan aku dahulu dengan tabah menusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. Padahal akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata terlalu lemah untuk patuh kepada air matamu. Tak ada jeda untuk kau tetap tinggal di hati ini.

Biarkan aku membiarkanmu pergi

Pada paragraf yang begitu singkat. Ada ingatan yang berkarat. Disana, aku dan kau terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu.
Padahal cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya terjauh. Tak ada celah untukku pergi dari sini. Biarkan aku membiarkanmu kembali

Biarkan aku membiarkanmu kembali.

Selasa, 30 Desember 2014

Sepinya Hati Ini

Aku mulai merasakan kesepian ini.
Semakin merasakan amat sangat perihnya hati ini.
Entahlah mengapa...
Aku sempat takut kehilanganmu. Namun saat aku memikirkan itu, hatiku mulai tidak peduli. Hati ini mulai tak acuh.
Namun saat aku merasa kesepian, hati ini terasa sangat perih memikirkanmu.
Aku tak tau kamu sedang melakukan apa, sedang dimana, bahkan tak tau kamu sedang dengan siapa. Aku sangat rindu kamu rasanya. Aku bisa bersabar saat kamu membalas pesan singkatku dengan pesanmu yang lebih singkat. tetapi mungkin tidak lebih dari 3-5 jam saja. Lebih dari itu hatiku mulai hancur. Ingin marah rasanya. Tetapi tak ada daya kuasa untuk marah denganmu apalagi sampai keluar beberapa kata yang akan menyakitkanmu. Aku lebih bisa bersabar saat kamu pergi entah kemana. meskipun aku tau aku akan merasakan sakit dibagian kepalaku karna aku memendam, tapi tidak apalah. Tak seberapa denganmu yang sering sekali mengalah untuku. Dibanding saat aku benar benar tidak bisa melawan emosiku.
Saat tidak bersamamu. Ataupun ada komunikasi yang memungkinkan, ponselku mulai terus bergetar, setelah kulihat beberapa kali berulang. Itu semua bukan dari kamu. Aku berharap dari kamu. Tetapi lebih banyak dari kerabat kedekatku. Bahkan tak jarang saat aku mengganti personal message di BBM sebagian yang merespon adalah pria. Tak sampai hati ini untuk membalas semua message itu. Aku lebih memilih memunggu kamu membaca pesan itu dan membalasnya. Terkadang hati ini tak kuasa saat kamu merespon dan bertanya. Sering sekali aku menyembunyikan maksud dari pesan itu. Namun aku sama sekali tidak mau kamu sakit hati. Apalagi sampai kita bertengkar. Sudah jarang ketemu. Sekali ada komunikasi kita bertengkar. Apa jadinya hati ini. Sudah hancur makin remuk saja.

Kamis, 18 Desember 2014

Rindu

Malam ini malam kedua aku tidur pukul 2 pagi.
Tidak biasanya aku seperti ini.
Justru biasanya, selalu diingatkan sudah makan belum, lagi dimana, sama siapa tapi sekarang sudah tidak lagi.
Aku rindu akan sosok kamu yang seperti itu.
Aku lelah memendam sendiri.
Aku terlalu sering mengeluarkan air mataku. Sedangkan kamu tidak tau soal ini.
Ingin sekali bercerita semuanya padamu.
Tapi jangankan untuk bercerita.
Sekedar ocehan yang tak penting pun kamu sering hiraukan aku. Bahkan sampai pada perhatianku pun kamu sering sekali hiraukan itu. Sering sekali merasa aku sedang di titik jenuhku. Justru membuat aku merasa lebih muak dengan semua sosial media yang membahas tentang kamu. Memperlihatkan siapapun sedang bersama kamu, berfoto bersama kamu. Aku tau itu sekedar bersenang-senang. Tapi tidak bisakah itu dilalui denganku? Sesampainya aku ingin sekali untuk menutup semua akun sosial media. Menjauhi semua yang berhubungan dengan kamu, karna aku sudah terlalu sakit. Tetapi semua itu hanya menjadi impian kosong. Aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah masuk dalam ruang lingkup kehidupanmu. Meski harus merasakan sakit yang teramat sakit. Aku sangat kecewa. Aku ingin marah. Karna aku yang menyayangi kamu tidak sering melakukan hal sebahagia kamu bersamaku. Sedangkan mereka yang hanya baru baru ini masuk ke kehidupanmu mudah sekali untuk bahagia bersamamu. Justru kamu lebih sering marah kepadaku atas hal yang kamu anggap konyol saat aku marah kamu bermain besama teman kamu dan teman perempuan mu. Tapi aku bisa apa, aku hanya bisa memendam semuanya. Mungkin kamu tidak pernah berfikir aku merasakan seperti ini.
Entah rasanya semuanya hancur saat kamu pergi bersama temanmu namun aku tau ada beberapa perempuan itu. Aku harap kamu baca tulisan ini dan bisa mengerti hatiku.